Selasa, 12 Februari 2008

ANALISIS PENINGKATAN MUTU PELAYANAN SMU ISLAM YMI DENGAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD)

Hafidh Munawir
Jurusan Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta email : hafidh2001@yahoo.com
Sari Murni
Jurusan Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta email : sarimurtopo@yahoo.com
Yosie Ika Putri Rahmawanti
Jurusan Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
ABSTRAK
Arti penting dari pendidikan telah disadari oleh kalangan masyarakat dari berbagai lapisan, oleh karena itu mutu pelayanan dan kualitas sekolah merupakan masalah yang harus diperhatikan. SMU Islam YMI harus menciptakan, mengembangkan dan meningkatkan kualitas pelayanannya, dalam bentuk atribut atau karakteristik yang sesuai dengan keinginan atau kebutuhan siswa. Sehingga mampu bersaing dengan SMU-SMU lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu pelayanan dan prioritas upaya peningkatan kinerja di SMU Islam YMI sesuai dengan keinginan siswa berdasarkan metode Quality Function Deployment (QFD). Dalam penelitian ini disusun atribut-atribut yang menjadi prioritas untuk diperhatikan dan dikembangkan, dan juga evaluasi pembanding dari mutu pelayanan SMU Islam YMI dengan SMUN 1 Kedungwuni. Kata Kunci: SMU Islam YMI, Pelayanan, Pendidikan.
Pendahuluan
Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, melalui upaya peningkatan mutu, setiap kabupaten dan kota wajib melaksanakan Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan bidang Pendidikan dasar dan menengah. Daerah kabupaten dan kota dapat mengembangkan dan atau menambah sistematika dan substansi Standar Pelayanan Minimal, sesuai dengan potensi, tuntutan, dan perkembangan daerah yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah (Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI No: 047/ U/2002).
Total Quality Management (TQM) merupakan paradigma filosofi yang menjadi perhatian bagi dunia industri dan akademik dalam beberapa tahun terakhir ini. Quality Function Deployment (QFD) atau penyebaran fungsi mutu merupakan alat yang digunakan untuk mendukung penerapan TQM dan program perbaikan mutu (Wahyu;1999:87-88).
Secara langsung peningkatan kinerja suatu lembaga pendidikan akan berpengaruh terhadap peningkatan kepuasan konsumen (siswa didik) ataupun sebaliknya. Sehingga berdasarkan latar belakang diatas, pada penelitian ini akan dibahas upaya untuk mengetahui sejauhmana tingkat keinginan siswa didik guna meningkatkan kinerja dari lembaga pendidikan yang bersangkutan untuk meningkatkan mutu pelayanannya.
Landasan Teori Pengertian Lembaga Pendidikan
Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal, nonformal dan informal, yang dapat saling melengkapi dan memperkaya wawasan serta ilmu. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan atas dan pendidikan tinggi (Kurnianingrum, 2004). Quality Function Deployment (QFD)
Sama halnya dengan penerapan QFD pada industri manufaktur dan industri jasa, penerapan QFD untuk sektor pendidikan juga dinilai dengan mendefinisikan pelanggan bisnis jasa pendidikan tersebut beserta kebutuhan dan harapannya terhadap jasa pendidikan yang akan mereka terima (Wahyu;1999:96).
Quality Function Deployment adalah suatu proses atau mekanisme terstruktur untuk menentukan kebutuhan pelanggan dan menerjemahkan kebutuhan–kebutuhan itu ke dalam kebutuhan teknis yang relevan, dimana masing-masing area fungsional dan level organisasi dapat mengerti dan bertindak. (Gasperz, 1996:42)
Bagan atau Matrik dari Quality Function Deployment (QFD) dapat dilihat pada gambar 1. Tahapan QFD meliputi: -Fase I adalah mengumpulkan suara pelanggan (voice of customer), yaitu penentuan kebutuhan atribut yang diperoleh melalui kuesioner. -Fase II adalah menyusun rumah kualitas (house of quality), yang terdiri atas
penentuan derajat kepentingan, evaluasi kinerja atribut terhadap pesaing, nilai
target, rasio perbaikan, sales point, bobot, normalisasi bobot, parameter teknik,
hubungan antara parameter teknik dengan kebutuhan konsumen, hubungan antar
parameter teknik, nilai matriks interaksi dengan parameter teknik, prioritas dari
setiap parameter teknik. -Fase III adalah analisa dari tahap-tahap di atas.

E. Technical Correlation (Korelasi teknik,Hubung dan ketergant antar respon teknik )
Gambar 1. House of Quality (HOQ)
Validitas Butir
Kesahihan (validitas) adalah tingkat kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan instrumen tersebut. Dalam penelitian ini, perhitungannya menggunakan software SPSS versi 11.00. Apabila data diolah dengan menggunakan SPSS maka data dikatakan valid jika pada tabel total terdapat simbol bintang (*). Reliabilitas (Keandalan) Butir
Reliabilitas adalah uji keandalan data instrumen atau data angket, apakah butir-butir angket dapat diandalkan dalam sebuah penelitian (Arikunto, 1998: 170). Dalam uji reliabilitas menggunakan software SPSS nilai kuesioner dianggap reliabel apabila nilai dari R hitung (Alpha if Item Deleted) adalah lebih dari nilai R tabel.
Metodologi Penelitian Obyek penelitian
Sebagai obyek dalam pelaksanaan penelitian ini adalah di SMU ISLAM YMI yang terletak di Jl. Raya Wonopringgo Pekalongan dan sebagai pembanding adalah SMU N 1 KEDUNGWUNI yang terletak di Jl. Paesan utara Kedungwuni di Pekalongan. Menentukan Sampel
Jumlah responden lebih dari 100 responden dapat diambil antara 10 – 15%, atau 20 – 25% atau lebih, dilihat dari kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana (Arikunto;1998;120). Jumlah responden dari SMU Islam YMI Wonopringgo yang diambil 30% dari masing-masing kelas baik IPA maupun IPS. Responden dari SMU N 1 Kedungwuni yang diambil 10% dari masing-masing kelas baik IPA maupun IPS. Perbedaan jumlah persentase pengambilan sampel pada kedua objek penelitian, karena mengingat jumlah siswa SMU N 1 Kedungwuni yang banyak, sehingga bila persentasenya sama maka data menjadi terlalu banyak sehingga peneliti akan mengalami kesulitan dalam mengolah data.